Selasa, 04 Mei 2010

FATHERLESS...

I grew up fatherless-ly…

Jangan peduliin grammar atau apanya ya…you’ll know what I mean after I tell you this story.
Fatherless bukan berarti nggak punya bapak lho ya.. He’s alive kog, beliau saat ini masih aktif sebagai PNS di bidang hukum, sudah senior lho…
Humm,,, I said I grew up fatherless-ly because… well, he was like invisible to me… I don’t know, apakah beliau tidak siap menjadi “ayah” yang benar-benar ayah or what, faktanya sampai sekarang deep conversation between father and daughter itu belum kesampaian terjadi. It’s gonna be my future agenda nih.
Sepanjang yang gw ingat, sebagian besar momen yang gw habiskan bersama orang tua adalah dengan sang ibu (thanks, mam). Sosok ayah (gw panggil “bapak”) hadir di masa kecil dengan sangat intens saat gw kecil dan kemudian saat gw duduk di kelas 2-3 SD. gw ikut bapak ke Kerinci saat bapak ditugaskan di sana. gw inget banget, setiap sore bapak ngajak gw dan adik gw (anak nomer 2, gw anak nomer 1) jalan-jalan ke kampung belakang rumah.. gw juga inget sekali kalo bapak pinter banget bikin singkong goreng, hemmm…kriuk en enak bgt, biasanya bapak bikin sore-sore jam 5 gitu, sambil nonton berita sore… Selang beberapa bulan, ibu dan adek gw (si bungsu) nyusul ke Kerinci. Saat itu sih yang gw ingat bapak mulai rada menjauh, sampe akhirnya jadi kaya orang asing karena beliau seperti tidak betah di rumah. gw di Kerinci sampe kelas 1 SMP Cawu II (yup, guys..jaman dulu masih pake caturwulan). Pas masuk Cawu III, bapak ditugaskan ke Sorong-Irian (sekali lagi, jadul mode : ON, kalo sekarang Papua cuyy…), saat itu GPK lagi rame sehingga ibu gak mau ikut pindah ke Sorong. Akhirnya, bapak seorang diri bertugas di Irian, ibu, gw en adek balik ke kampung halaman tercinta di Lampung.
So life keeps running… hampir 6 tahun bapak bertugas di Irian, terus dipindahtugaskan lagi ke Palu, Sulawesi Tengah. So many years he passed, without knowing what’s been through with me and my sisters and my mum. Yeah, he skipped so many things…and so did we to him.
He’s a kind of person who can’t show his affection to people he loves. And so is mum. And that’s all the things that formed me… I was also like them.
Sometimes I try to look at things from his point of view. I confess it’s hard… I did often blame him for being such a father-who-never-holds-me or who-never-be-there-when-I-need-his-hug.. I did blame him, so often. He was just like a stranger at the house….

Well…
I keep growing up….
With or without him, right ?
gw tau, for some reasons Tuhan tetapkan gw lahir dan bertumbuh dalam keluarga seperti ini.
I confess, I grew up fatherless-ly.
But that ain’t a problem for God.
We’re like mirey clay for God, He can form us to be whatever He wants…

So,,,
Singkat cerita.. ada pengampunan dan perdamaian dengan sejarah hidup gw saat gw bertobat dan dilahirkan kembali…
gw juga gak menganggap fatherless ini sebuah big mistakes or what, like I said at the beginning…maybe he wasn’t so ready to become a real-father. Tapi gw sekarang mengerti, ada maksud di balik segala hal… Tidak pernah ada yang namanya kebetulan, segala hal sudah dirancang dari sejak semula !

Dad, still… I love you, no matter what.

<3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar